1. Tidur dalam berwudlu
Malaikat berdoa : "Ya ALLAH, ampunilah si fulan ini, karena sungguh ia tidur dalam keadaan suci. (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Umar
2. Menunggu Shalat
Malaikat berdoa : "Tidaklah seseorang yang duduk menunggu shalat dalam keadaan suci, kecuali malaikat akan mendoakan dirinya :'Ya ALLAH, sayangi dia'. (HR. Muslim)"
3. Berada di Shaff peling depan
Malaikat berdoa : "Sesungguhnya ALLAH dan MalaikatNya bershalawat (menyayangi) untuk orang-orang yang berada di shaff paling depan. (HR. Abu Daud)"
4. Membaca "Amiin"
Aminnya kita akan di amiini oleh para malaikat.
Malaikat berdoa : "Barang siapa yang ucapan 'Amiin' nya berbarengan dengan ucapan malaikat, maka akan di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhori)"
5. Tetap duduk di tempat Shalat
Malaikat akan bershalawat untuk siapa aja yang tetap duduk di tempat ia shalat dalam keadaan suci.
Malaikat berdoa : "Ya ALLAH, ampunilah dan sayangilah orang ini. (HR. Ahmad)"
6. Shalat Subuh dan Ashar berjama'ah
Karena pergantian antara malaikat siang dan malam.
Malaikat berdoa : "Kami datangi mereka dalam keadaan mereka shalat, dan kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, maka ampunilah mereka di hari kiamat nanti. (HR. Ahmad dan Abu Hurairoh)"
7. Mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya
Malaikat berdoa : "Amiin......dan untukmu seperti apa yang engkau minta. (HR. Muslim)"
8. Berinfaq
Malaikat berdoa : "Ya ALLAH, berilah ganti bagi orang yang berinfaq. (\hr.Bukhori dan Muslim)"
9. Menjenguk saudara yang sedang sakit atau terkena musibah
Nabi berkata : Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya, kecuali ALLAH mengutus 70.000 malaikat yang terus menerus bershalawat untuknya (HR. Ahmad)
10. Sabar
Malaikat berdoa : "Sesungguhnya ALLAH dan malaikatNYA beshalawat untuk orang-orang yang sabar."
11. Mengajarkan kebaikan pada orang lain
Malaikat berdoa : "Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada di dalam lobang, bahkan ikan, bershalawat untuk orang yang mengerjakan kebaikan pada orang lain. (HR. Turmudzi)"
copas dari temen..
Teguh Rayhan Santosa March 7 at 3:17pm
Blog ini adalah tempat berbagi pemikiran, perasaan dan cerita-cerita ringan tentang kehidupan keluarga kecil kami. Dinamakan "Keluarga Molek" karena Molek adalah nama panggilan Sang Ibu semasa kecil. Tulisan-tulisan di blog ini ada yang ditulis oleh Ayah, ditulis oleh Ibu, bahkan ada yang ditulis oleh para anggota yang krucil-krucil. Makanya mungkin bahasanya bisa beda2. Semoga bermanfaat...
16 Maret 2010
12 Maret 2010
Tausiyah dari Tetangga....
Seorang tetangga, sesama jemaah mesjid, sejak kemaren sore hingga tadi pagi memberikan tausiyahnya. Bahwa jika Allah masih memberi kesempatan buat kita untuk besyukur, optimis dan berbagi kebaikan sebanyak-banyaknya, maka sungguh manfaatkanlah. Tetanggaku itu beberapa tahun lalu divonis terkena kanker darah, leukemia. menurut dokter, beliau tak bisa bertahan lama usianya. Karenanya, beberapa kali beliau keluar masuk RS untuk kemoterapi.
Tetapi pada kesehariannya sama sekali tak tampak bahwa beliau menanggung sakit seberat itu. Beliau selalu ceria, berbagi semangat dg selalu mengikuti kegiatan olahraga, berbagi kebaikan dg aktif sebagai ketua RT, selalu bersyukur dengan tak meninggalkan shalat berjamaah di masjid dikala sehat. Orang banyak mengenangnya sbg org baik dan saleh. Dan Allah pun ternyata masih memberi lebih banyak kesempatan daripada yg telah diperhitungkan para dokter sebelumnya. Bahkan sepertinya beliau telah benar2 sembuh dari sakitnya itu. Dan itu dimanfaatkan betul oleh beliau kesempatan itu.
Tetanggaku itu juga memberi tausiyah, bahwa hidup kita itu memang berada di genggamanNya semata. Kita boleh berangan-angan bahwa kita akan hidup sepanjang usia yg kita inginkan dan sebaliknya kita juga boleh mengira-ira bahwa hidup kita tinggal sebentar lagi. Tetapi tetap saja, kita tak kan tahu kapan kita sampai kepada titik akhir kehidupan kita.
Tetanggaku itu masih muda, hanya sedikit lebih tua dariku. Meski begitu oleh Allah beliau sudah diberikan penyakit yang secara jangkauan pengetahuan manusia sudah tergolong parah dan tinggal menghitung hari masa-masa hidupnya. Tetapi ternyata beliau masih diberi kesempatan sekianlama lagi, sementara sekian puluh juta orang di dunia ini yang berusia lebih muda dan memiliki tubuh yang lebih sehat telah mendahuluinya, dicabut kehidupannya oleh Allah. Jadi, betapa sombongnya kita yang dengan segala kelebihan sehatnya fisik yang dimiliki merasa bahwa usia kita masih akan lebih lama lagi, sehingga kita menganggap tak perlu bersegera mendekatkan diri kepadaNya. Betapa bodohnya kita yang mengira bahwa sehatnya fisik kita berarti kita pasti akan lebih senang, lebih nyaman dan lebih bahagia lebih lama dibandingkan mereka yang berfisik lemah, tak berdaya, bahkan yang tidak sempurna tubuhnya. Karena itu semua bukan jaminan panjang pendeknya jatah umur kita.
Dan akhirnya tetanggaku itu memberi tausiyah, bahwa memang sekarang kita yang datang bertakziyah, kita yang ikut memandikan jenazah, kita yang ikut mengkafaninya, mensholati, lalu ikut mengantarkannya ke liang kubur. Tetapi kita diingatkannya bahwa adalah suatu keniscayaan bahwa suatu saat pasti kita yang akan didatangi orang yang bertakziyah, tubuh kita dimandikan lalu dibungukuskan kain kafan, disholati dan dimasukkan oleh mereka ke liang kubur kita, karena kita telah terbujur tak bernyawa setelah habis jatah umur kita, setelah sampai kita di titik terakhir usia kita, seperti tetanggaku itu.
Ya, tetanggaku itu bertausiyah tidak dengan kata-kata, tetapi dengan contoh dan kejadian yang dia alami semenjak masa-masa akhir hidupnya hingga wafat, dipanggil menghadapNya kemarin sore dan dimakamkan tadi pagi.
Semoga kita bisa meneladani dan mengambil hikmah darinya.
Allahummaghfirlahuu, warhamhuu, wa'aafihii, wa'fu'anhu....
Bandung, 120310
05 Maret 2010
SURATKU UNTUK SAHABAT BAG 2
Wahida Murodi March 2 at 3:03pm
Alhamdulillaah..Allah telah menyambungkan hati kita...
jarak yang berdekatan tidak menjamin hati langsung tersambung antara kita ya bu..? karena sebenarnya dulu di palembang kita hanya sempat kenal sekedarnya walau satu kota, setelah kita jauhan, beda kota eehh kita nyambung... Allah betul-betul Maha Mengatur Segalanya.
Alhamdulillah terima kasih ... ibu mau menjadikan saya ada direlung hati ibu.
Dengan berkenan menerima apa yang saya tulis kemarin.
Padahal untuk menulisnya saya hampir tiga kali mengulang lo bu..., baru dapet beberapa baris tulisan ehhh mati lampu, sore aliran listrik dah nyala saya buka fb, nulis lagi...ehhh mati lampu lagi... hilanglah apa yang sudah 2 kali saya tulis qeqeqe...
Tp Alhamdulillah...kalo niat baik memang kadang tak selancar dan seindah yang dibayangkan. Mungkin sama seperti apa yang ibu harus hadapi sekarang.
Saya sebenarnya tak ingin membuat air mata ibu mengalir, saya ingin ibu tidak bersedih terus menerus.
Ibu telah memilih.. dan Allah telah menyiapkan suatu ladang pahala untuk ibu tebar benihnyaa dan kelak ibu tuai hasilnya.
Saya hanya ingin minta izin jika boleh saya titipkan pesan buat ibu.
Mantapkan hati bu...
Apalagi memang sudah seizin suami ibu boleh bekerja lagi.
Seperti saya katakan diatas jarak tak menjamin untuk hati tak saling bertaut.
Mudah-mudahan ada hikmah dibalik semua ini buat kebaikan keluarga ibu.
Dan rasanya tak baik juga jika ibu hanya bertahan, mencoba menikmati peran ibu sebagai ibu rumah tangga seutuhnya tapi disatu sisi membuat anak-anak juga tidak sehat secara psikologis. Kalo memang sekarang ibu dihadapkan pada pilihan untuk bekerja maka luruskan saja niat itu bu..
Niat bahwasanya ibu ingin memberi manfaat buat sesama menyalurkan potensi terutama ilmu yang ada pada diri ibu.Dan diiringi harapan dengan semua itu adanya Keridhaan dari Allah tentunya.
Insya Allah anak-anak juga suami ibu akan baik-baik saja dan selalu berada dalam jaminan Allah SWT.
Bukankah di kehidupan sekitar kita bukan hanya satu dua keluarga yang terpisah jarak dan terpaksa berjauhan karena bermacam-macam cerita dan kendala..??
Saya ngiring doa..
Moga ibu dapat menikmati peran baru ibu besok untuk menebar manfaat tidak cuma untuk keluarga tapi bagi sesama. Apalagi ibu akan terjun di bidang kesehatan kan ?
Anak-anak juga mudah-mudahan bisa survive ..cepat beradaptasi nantinya.
Ibu tidak usah khawatir, terkadang ada anak-anak yang lebih bisa dewasa dan mandiri jika ditinggal ibunya kerja .
Terus nanti karena jauhan sama bapaknya anak-anak kan malah banyak kangen--kangenannya hehehe...terus jarang berantem dan sebel jadinya.Hehe...piss canda ya bu..
Insya Allah, Allah memberikan jalan untuk kita berjumpa.
Saya cuma bisa bayangin kalo ibu tetanggaan sama saya ceritanya mesti beda dehh... ibu ga bakalan mau pindah ke kalimantan..hahaha.( ge-er berat mode:on )
Sukses selalu ya bu..
Insya Allah jika saya sempet saya akan berbagi ilmu asal ibu ga bosen.
Terima kasih..
Wassalamu'alaikum Wr Wb
Alhamdulillaah..Allah telah menyambungkan hati kita...
jarak yang berdekatan tidak menjamin hati langsung tersambung antara kita ya bu..? karena sebenarnya dulu di palembang kita hanya sempat kenal sekedarnya walau satu kota, setelah kita jauhan, beda kota eehh kita nyambung... Allah betul-betul Maha Mengatur Segalanya.
Alhamdulillah terima kasih ... ibu mau menjadikan saya ada direlung hati ibu.
Dengan berkenan menerima apa yang saya tulis kemarin.
Padahal untuk menulisnya saya hampir tiga kali mengulang lo bu..., baru dapet beberapa baris tulisan ehhh mati lampu, sore aliran listrik dah nyala saya buka fb, nulis lagi...ehhh mati lampu lagi... hilanglah apa yang sudah 2 kali saya tulis qeqeqe...
Tp Alhamdulillah...kalo niat baik memang kadang tak selancar dan seindah yang dibayangkan. Mungkin sama seperti apa yang ibu harus hadapi sekarang.
Saya sebenarnya tak ingin membuat air mata ibu mengalir, saya ingin ibu tidak bersedih terus menerus.
Ibu telah memilih.. dan Allah telah menyiapkan suatu ladang pahala untuk ibu tebar benihnyaa dan kelak ibu tuai hasilnya.
Saya hanya ingin minta izin jika boleh saya titipkan pesan buat ibu.
Mantapkan hati bu...
Apalagi memang sudah seizin suami ibu boleh bekerja lagi.
Seperti saya katakan diatas jarak tak menjamin untuk hati tak saling bertaut.
Mudah-mudahan ada hikmah dibalik semua ini buat kebaikan keluarga ibu.
Dan rasanya tak baik juga jika ibu hanya bertahan, mencoba menikmati peran ibu sebagai ibu rumah tangga seutuhnya tapi disatu sisi membuat anak-anak juga tidak sehat secara psikologis. Kalo memang sekarang ibu dihadapkan pada pilihan untuk bekerja maka luruskan saja niat itu bu..
Niat bahwasanya ibu ingin memberi manfaat buat sesama menyalurkan potensi terutama ilmu yang ada pada diri ibu.Dan diiringi harapan dengan semua itu adanya Keridhaan dari Allah tentunya.
Insya Allah anak-anak juga suami ibu akan baik-baik saja dan selalu berada dalam jaminan Allah SWT.
Bukankah di kehidupan sekitar kita bukan hanya satu dua keluarga yang terpisah jarak dan terpaksa berjauhan karena bermacam-macam cerita dan kendala..??
Saya ngiring doa..
Moga ibu dapat menikmati peran baru ibu besok untuk menebar manfaat tidak cuma untuk keluarga tapi bagi sesama. Apalagi ibu akan terjun di bidang kesehatan kan ?
Anak-anak juga mudah-mudahan bisa survive ..cepat beradaptasi nantinya.
Ibu tidak usah khawatir, terkadang ada anak-anak yang lebih bisa dewasa dan mandiri jika ditinggal ibunya kerja .
Terus nanti karena jauhan sama bapaknya anak-anak kan malah banyak kangen--kangenannya hehehe...terus jarang berantem dan sebel jadinya.Hehe...piss canda ya bu..
Insya Allah, Allah memberikan jalan untuk kita berjumpa.
Saya cuma bisa bayangin kalo ibu tetanggaan sama saya ceritanya mesti beda dehh... ibu ga bakalan mau pindah ke kalimantan..hahaha.( ge-er berat mode:on )
Sukses selalu ya bu..
Insya Allah jika saya sempet saya akan berbagi ilmu asal ibu ga bosen.
Terima kasih..
Wassalamu'alaikum Wr Wb
04 Maret 2010
SURATKU UNTUK SAHABAT BAG 1
Belum lama saya merasa Alaah memberikan karuniaNya, tersambungnya saya dengan salah seorang sahabat yang sudah lama terputus kontak.
Dengan IzinNya jua saya merasa bahwa ilmu saya belum begitu banyak,tapi Alhamdulillah diberi Allah kesempatan ketika tersambungnya silaturrahim antara kami kembali, untuk berusaha memberi sahabat saya itu support ditengah kegalauan hati yang ia ungkapkan pada saya.
Dan tulisan dibawah ini adalah sedikit upaya saya untuk membesarkan hatinya, memberi support padanya.
Semoga karena Allah yang telah memberikan ikatan batin antara kami untuk kembali terjalin silaturrahiim. Maka saya berharap semoga Allah dapat pula meridhai akan apa yang saya sampaikan padanya diberikut ini :
Wahida Murodi March 1 at 8:15pm
wa'alaikum salam...makasih dah mau berbagi cerita, ngurus anak-anak dimana-mana sama bu...berantem ahhh saya sampe hapal gelagat mereka kalo mau berantem. iya sihh pas kita lagi sela santai ga banyak beban pikiran..bisa memantau dan mengalihkan perhatian salah satu diantara mereka biar ga sampe berantem, tapi kadang ada di saat kita lagi serius ngerjain sesuatu atau disaat kita pengen ga diganggu dulu, capek karena kerjaan rumah yang perasaan ga ada selesai-selesainya, lagi betelah pokoknya ... mereka memang sasaran empuk ibunya untuk dimarahin.
qeqeqe...saya jadi malu. Saya juga sama kok bu..bukan ibu yang penyabar, suka marah-marah juga ke anak-anak. Malah menurut ibu psikolog yang sering saya ikuti kajiannya, marah adalah hal yang wajar dan manusiawi. Kalo kita sebagai ibunya ga marah itu sih ga bagus juga buat mereka karena mereka nanti tidak tahu mana yang perbuatan bener dan mana yang salah.Hanya kita perlu mengontrol dan mengasah tingkat kecerdasan emosi kita.
Dulu waktu baru punya anak satu mungkin saya samalah seperti ibu-ibu muda yang laen, bapaknya pulang telat saya bisa marah besar, merasa seolah-olah bapaknya lebih mentingin pekerjaan ketimbang istri dan anak. Atau pernah juga hanya karena baju kerja yang sudah saya siapkan ehh taunya bapaknya memilih baju sendiri dan tidak memakai baju yang tadinya sudah saya pilihkan, saya ga terima... terus bukannya ngeloni istri kek.. anaknya kek...ini malah nonton bola sampe malem begadang ..waahh saya ngambek berat..cemburu.. .. dan jeleknya saya terkadang melampiaskan semua emosi itu ke anak, yang padahal ketika dia tidur aduuhh saya hanya mampu istighfar dan menyesal.
Alhamdulillah seiring waktu dan bertambahnya anak-anak saya juga bisa meminimalkan rasa emosi yang akan muncul, apa bisa dikatakan saya bertambah dewasa atau kecerdasan emosi saya kian terasah..??? ahh kayaknya ga juga deeh..lah wong sekarang juga kadang-kadang saya masih suka iri dan sebel lihat bapaknya yang senyam-senyum sendiri dan berlama-lama fesbukan hehehe.........
Ada kemungkinan juga karena saya selalu berusaha untuk menerima dan mengenal diri saya seutuhnya dan saya yang harus mengatur hawa nafsu saya bukan sebaliknya. Serta memahami dengan ikhlas sifat dan tingkah laku bapaknya yang tidak mungkin saya robah sebagaimana yang saya mau, maka anak-anak pun tidak lagi menjadi pelampiasan rasa sebel dan emosi saya yang intinya pada bapaknya tapi saya pendam tanpa bisa mengkomunikasikannya dengan baik.
Melalui proses yang panjang dan juga tidak semudah membalik telapak tangan tentunya, Insya Allah bisa saya lewati dan saya terima semua yang Allah gariskan untuk diri saya.
Saya akui sebagai istri dan ibu muda yang masih dalam tahapan berproses seumpama kepompong ( nyontek dikit dari syair lagu ). Saya pernah dihadapkan pada permasalahan hidup yang seakan tak habis-habisnya, mulai dari persoalan diri saya sendiri, suami, anak-anak, orang tua bahkan mertua atau saudara juga tetangga.
Sabar dalam menghadapinya adalah kata yang klise, tapi saya yakin kesabaran itu memang pahit adanya tapi akibatnya Subhaanallaah akan melebihi manisnya madu.
Bukankah kupu-kupu itu berwarna indah dan bisa terbang kemana ia suka untuk menghisap manisnya sari bunga setelah berjuang dengan sabar dan susahnya untuk keluar dari kepompongnya..???
Atau seorang nahkoda yang handal itu juga terlahir karena ia telah berhasil melewati ombak demi ombak yang demikian ganasnya.
Duuhh maaf ya bu...saya kok kebablasan ..jadi kayak ceramah ya...hehe...ini bukan saran juga bukan nasehat karena saya juga terus dalam pembelajaran menuju kematangan. Ini hanya sharing antara kita sebagai seorang ibu yang Insya Allah kelak dari anak-anak kitalah lahir generasi-generasi penerus yang bisa membanggakan tidak hanya dalam keduniawian tapi terutama buat agama...
Aaaaamiin...ya robbal 'aalamiin....
Ibu keterima PNS dikota asal ...?? Alhamdulillaah...selamat ya bu...
Tidak semua orang mempunyai kesempatan dan memperoleh rizki seperti itu.
Saya seakan tidak percaya bahwa ibu memutuskan pilihan untuk memaksimalkan potensi diri dengan bekerja diluar rumah. Rasa bimbang, bingung dan berat bagi ibu untuk memutuskan adalah hal yang wajar dan saya sangat-sangat memakluminya. Kebimbangan dan kebingungan manusiawi sebagai seorang istri dan ibu.
Saya hanya bisa menduga ibu kemaren pertama kali daftar PNS mungkin hanya iseng-iseng atau lebih menyangka tidak keterima ketimbang keterima, bukan begitu bu...??? ( sok tau mode:on ) hehe...abiss kalo ibu nyangka keterima mungkin tidak akan ada kebimbangan lagi tooh..karena sebelumnya telah ibu bayangkan berbagai risiko dan kemungkinan-kemungkinan yang realistis jika keterima. Ahhh tapi saya tidak bisa ikut campur lebih jauh karena ini menyangkut target hidup yang mungkin ingin ibu capai, dengan mengaktualisasikan diri tentunya.
Saya juga tidak bisa memberikan saran yang mana lebih baik karena menganggap bahwa kita punya hak yang berbeda akan diri kita masing-masing.
Apalagi saya hanya seorang perempuan yang berpikir sederhana, ketika saya melihat perempuan-perempuan dijalan yang masih sekolah..kuliah atau mereka yang kerja
dan belum menikah maka saya merasa saya adalah perempuan yang paling beruntung didunia ini.
Karena saya yakin walau telah tinggi cita-cita yang mereka raih, karier yang bagus, kesuksesan materi yang berlimpah tapi mereka tetap bermuara pada satu keinginan punya suami dan anak-anak, punya keluarga tempat akhir dari bertualangnya mereka.
Sementara alangkah tidak pantasnya saya jika harus memungkiri nikmat Allah yang telah Allah berika pada saya..?? suami dan anak-anak adalah amanah yang telah Allah titipkan pada saya, ditengah menjalani kehidupan berumah tangga yang hampir empat belas tahun,semampu dan dengan sekuat tenaga saya selalu berusaha memahat kepasrahan untuk menerima peran hidup yang telah Allah berikan.
Target hidup sayapun sederhana saya ingin selalu membahagiakan suami dan anak-anak, melihat mereka bahagia maka itu adalah kebahagian saya pula. Dan berusaha dengan berbagai sarana dan potensi diri yang saya miliki semaksimal mungkin saya orientasikan untuk menjadi penopang tercapainya target primer hidup saya. Target tertinggi dalam hidup saya yaitu tak lebih dan dan tak kurang mencapai keridhaan Allah Subhaanahu Wata'aala..........
Dan yang pasti keridhaan suami akan saya nanti dan impikan sebagai kunci untuk menuju keridhaan Ilahi yang hakiki......
Maaf sekali lagi bu...
Mungkin kepanjangan apa yang saya tuliskan ini, mudah-mudahan Allah senantiasa Menjaga hati kita, Meridhai setiap langkah yang kita tempuh.....
Aaaamiin.........
Dengan IzinNya jua saya merasa bahwa ilmu saya belum begitu banyak,tapi Alhamdulillah diberi Allah kesempatan ketika tersambungnya silaturrahim antara kami kembali, untuk berusaha memberi sahabat saya itu support ditengah kegalauan hati yang ia ungkapkan pada saya.
Dan tulisan dibawah ini adalah sedikit upaya saya untuk membesarkan hatinya, memberi support padanya.
Semoga karena Allah yang telah memberikan ikatan batin antara kami untuk kembali terjalin silaturrahiim. Maka saya berharap semoga Allah dapat pula meridhai akan apa yang saya sampaikan padanya diberikut ini :
Wahida Murodi March 1 at 8:15pm
wa'alaikum salam...makasih dah mau berbagi cerita, ngurus anak-anak dimana-mana sama bu...berantem ahhh saya sampe hapal gelagat mereka kalo mau berantem. iya sihh pas kita lagi sela santai ga banyak beban pikiran..bisa memantau dan mengalihkan perhatian salah satu diantara mereka biar ga sampe berantem, tapi kadang ada di saat kita lagi serius ngerjain sesuatu atau disaat kita pengen ga diganggu dulu, capek karena kerjaan rumah yang perasaan ga ada selesai-selesainya, lagi betelah pokoknya ... mereka memang sasaran empuk ibunya untuk dimarahin.
qeqeqe...saya jadi malu. Saya juga sama kok bu..bukan ibu yang penyabar, suka marah-marah juga ke anak-anak. Malah menurut ibu psikolog yang sering saya ikuti kajiannya, marah adalah hal yang wajar dan manusiawi. Kalo kita sebagai ibunya ga marah itu sih ga bagus juga buat mereka karena mereka nanti tidak tahu mana yang perbuatan bener dan mana yang salah.Hanya kita perlu mengontrol dan mengasah tingkat kecerdasan emosi kita.
Dulu waktu baru punya anak satu mungkin saya samalah seperti ibu-ibu muda yang laen, bapaknya pulang telat saya bisa marah besar, merasa seolah-olah bapaknya lebih mentingin pekerjaan ketimbang istri dan anak. Atau pernah juga hanya karena baju kerja yang sudah saya siapkan ehh taunya bapaknya memilih baju sendiri dan tidak memakai baju yang tadinya sudah saya pilihkan, saya ga terima... terus bukannya ngeloni istri kek.. anaknya kek...ini malah nonton bola sampe malem begadang ..waahh saya ngambek berat..cemburu.. .. dan jeleknya saya terkadang melampiaskan semua emosi itu ke anak, yang padahal ketika dia tidur aduuhh saya hanya mampu istighfar dan menyesal.
Alhamdulillah seiring waktu dan bertambahnya anak-anak saya juga bisa meminimalkan rasa emosi yang akan muncul, apa bisa dikatakan saya bertambah dewasa atau kecerdasan emosi saya kian terasah..??? ahh kayaknya ga juga deeh..lah wong sekarang juga kadang-kadang saya masih suka iri dan sebel lihat bapaknya yang senyam-senyum sendiri dan berlama-lama fesbukan hehehe.........
Ada kemungkinan juga karena saya selalu berusaha untuk menerima dan mengenal diri saya seutuhnya dan saya yang harus mengatur hawa nafsu saya bukan sebaliknya. Serta memahami dengan ikhlas sifat dan tingkah laku bapaknya yang tidak mungkin saya robah sebagaimana yang saya mau, maka anak-anak pun tidak lagi menjadi pelampiasan rasa sebel dan emosi saya yang intinya pada bapaknya tapi saya pendam tanpa bisa mengkomunikasikannya dengan baik.
Melalui proses yang panjang dan juga tidak semudah membalik telapak tangan tentunya, Insya Allah bisa saya lewati dan saya terima semua yang Allah gariskan untuk diri saya.
Saya akui sebagai istri dan ibu muda yang masih dalam tahapan berproses seumpama kepompong ( nyontek dikit dari syair lagu ). Saya pernah dihadapkan pada permasalahan hidup yang seakan tak habis-habisnya, mulai dari persoalan diri saya sendiri, suami, anak-anak, orang tua bahkan mertua atau saudara juga tetangga.
Sabar dalam menghadapinya adalah kata yang klise, tapi saya yakin kesabaran itu memang pahit adanya tapi akibatnya Subhaanallaah akan melebihi manisnya madu.
Bukankah kupu-kupu itu berwarna indah dan bisa terbang kemana ia suka untuk menghisap manisnya sari bunga setelah berjuang dengan sabar dan susahnya untuk keluar dari kepompongnya..???
Atau seorang nahkoda yang handal itu juga terlahir karena ia telah berhasil melewati ombak demi ombak yang demikian ganasnya.
Duuhh maaf ya bu...saya kok kebablasan ..jadi kayak ceramah ya...hehe...ini bukan saran juga bukan nasehat karena saya juga terus dalam pembelajaran menuju kematangan. Ini hanya sharing antara kita sebagai seorang ibu yang Insya Allah kelak dari anak-anak kitalah lahir generasi-generasi penerus yang bisa membanggakan tidak hanya dalam keduniawian tapi terutama buat agama...
Aaaaamiin...ya robbal 'aalamiin....
Ibu keterima PNS dikota asal ...?? Alhamdulillaah...selamat ya bu...
Tidak semua orang mempunyai kesempatan dan memperoleh rizki seperti itu.
Saya seakan tidak percaya bahwa ibu memutuskan pilihan untuk memaksimalkan potensi diri dengan bekerja diluar rumah. Rasa bimbang, bingung dan berat bagi ibu untuk memutuskan adalah hal yang wajar dan saya sangat-sangat memakluminya. Kebimbangan dan kebingungan manusiawi sebagai seorang istri dan ibu.
Saya hanya bisa menduga ibu kemaren pertama kali daftar PNS mungkin hanya iseng-iseng atau lebih menyangka tidak keterima ketimbang keterima, bukan begitu bu...??? ( sok tau mode:on ) hehe...abiss kalo ibu nyangka keterima mungkin tidak akan ada kebimbangan lagi tooh..karena sebelumnya telah ibu bayangkan berbagai risiko dan kemungkinan-kemungkinan yang realistis jika keterima. Ahhh tapi saya tidak bisa ikut campur lebih jauh karena ini menyangkut target hidup yang mungkin ingin ibu capai, dengan mengaktualisasikan diri tentunya.
Saya juga tidak bisa memberikan saran yang mana lebih baik karena menganggap bahwa kita punya hak yang berbeda akan diri kita masing-masing.
Apalagi saya hanya seorang perempuan yang berpikir sederhana, ketika saya melihat perempuan-perempuan dijalan yang masih sekolah..kuliah atau mereka yang kerja
dan belum menikah maka saya merasa saya adalah perempuan yang paling beruntung didunia ini.
Karena saya yakin walau telah tinggi cita-cita yang mereka raih, karier yang bagus, kesuksesan materi yang berlimpah tapi mereka tetap bermuara pada satu keinginan punya suami dan anak-anak, punya keluarga tempat akhir dari bertualangnya mereka.
Sementara alangkah tidak pantasnya saya jika harus memungkiri nikmat Allah yang telah Allah berika pada saya..?? suami dan anak-anak adalah amanah yang telah Allah titipkan pada saya, ditengah menjalani kehidupan berumah tangga yang hampir empat belas tahun,semampu dan dengan sekuat tenaga saya selalu berusaha memahat kepasrahan untuk menerima peran hidup yang telah Allah berikan.
Target hidup sayapun sederhana saya ingin selalu membahagiakan suami dan anak-anak, melihat mereka bahagia maka itu adalah kebahagian saya pula. Dan berusaha dengan berbagai sarana dan potensi diri yang saya miliki semaksimal mungkin saya orientasikan untuk menjadi penopang tercapainya target primer hidup saya. Target tertinggi dalam hidup saya yaitu tak lebih dan dan tak kurang mencapai keridhaan Allah Subhaanahu Wata'aala..........
Dan yang pasti keridhaan suami akan saya nanti dan impikan sebagai kunci untuk menuju keridhaan Ilahi yang hakiki......
Maaf sekali lagi bu...
Mungkin kepanjangan apa yang saya tuliskan ini, mudah-mudahan Allah senantiasa Menjaga hati kita, Meridhai setiap langkah yang kita tempuh.....
Aaaamiin.........
26 Februari 2010
Cita yang tertunda (bagian kedua dari "Anak-anak Nulis Resolusi 2010 Mereka..")

Menyambung cerita di note saya sebelumnya, dari sekian poin-poin yang di tulis anak-anak saya mengenai resolusi 2010 mereka, terus terang, ada beberapa poin yang mereka kemukakan itu benar-benar bikin saya takjub. Dan memang seharusnyalah keinginan-keinginan mereka itu akan bisa terwujud disertai dukungan, dengan support dari kami sebagai orang tua untuk selalu mengingatkan, membangkitkan semangat mereka akan sebahagian keinginannya yang harus bisa mereka capai.
Tapi di lain pihak ada juga beberapa poin dari mereka, walau bersifat positif lumayan, sempet menjadi pergulatan batin yang hebat di benak kami selaku orang tua khususnya saya sebagai ibunya. Nah, yang mau saya ceritakan ini adalah tentang resolusi si Mas Aufa, si sulung saya.
Bagaimana tidak jadi pikiran, (maaf..mungkin ceritanya agak mundur ke belakang sedikit ya.. ) sewaktu masih duduk di kelas empat sekolah dasar, dia sangat menyenangi kegiatan Pramuka. Suatu ketika dengan begitu semangat bercerita pada saya sepulang dia dari latihan Pramuka, " Bu, tadi kakak pembinanya dari SMP 14. Katanya SMP 14 itu Pramukanya hebat lo Bu! Pernah ikut kegiatan Pramuka internasional ke London, ke Malasyia, pokoknya antar negara lah. Mas besok mau masuk SMP 14 aja ya Bu, biar bisa ikut kegiatan Pramukanya, trus bisa keluar negeri juga!".
"Iyaa...yang terpenting sekarang Mas rajin belajar dulu. Kan kalo nilainya gede gampang mau masuk SMP mana aja.Terus rajin berdoa juga...", begitu jawaban saya.
Sampai dengan duduk di kelas 6 SD kegiatan-kegitan lomba Pramuka disekolahnya selalu dia ikuti. Alhamdulillah, beberapa kali dia mendapat juara. Dan dari situlah keinginan untuk masuk ke SMP 14 semakin bertambah besar dan itu masuk dalam salah satu resolusi tahun 2009 yang di tulisnya saat itu.
Alhamdulillah juga, atas seizinNya jualah apa yang menjadi separuh keinginannya telah tercapai, dia pun diterima menjadi murid SMP 14. Walau waktu pendaftaran banyak masukan tentang SMP-SMP favorit lainnya dari baik teman-temanya dan maupun dari kita yang ditawarkan kepadanya, dia tetep keukeuh dengan pendiriannya untuk masuk SMPN 14.
Setelah kurang lebih enam bulan dia aktif dengan kegiatan Pramuka di SMP sesuai cita-citanya, di suatu sore hari Jumat, seakan tak bisa menunggu waktu lama, dia dengan penuh kegembiraan dan antusias yang tinggi menyampaikan kabar pada saya, " Bu...besok Desember tanggal 27 atau 28 Pramukanya ikut campboree ke Batam !! Terus nanti kalo selesai kegiatan di Batam langsung nyebrang ke Singapura, mau malam tahun baruan di Singapura. Mas boleh ikut ya Bu...!!" Deegh...ada satu rasa yang berdesir dihati, haru, bahwa sebentar lagi tercapai separuh keinginannya yang lain sehingga menjadi sempurnalah apa yang menjadi cita-citanya. Ya, salah satu resolusi 2010 yang ditulisnya sebentar lagi bisa jadi kenyataan (poin keenam dan ketujuh).
Sambil memeluknya saya cuma bisa katakan padanya, "Masya Allah...Alhamdulillah.. Itu kan emang cita-citanya Mas, masa' Ibu ga boleh...". Wajahnya terlihat begitu sumringah bahagia dan saya ikut merasakan kebahagiannya itu.
Dua hari berselang setelah dia menyampaikan kabar gembira itu, si Mas membawa kabar berikutnya, "Bu...kata pak gurunya lomba Pramuka yang ke Batam itu biayanya gede, karena kan mau nyebrang Singapura, jadi harus buat paspor ama lain-lainnya. Satu anak bisa juta-jutaan, kecuali nanti dapet sponsor mungkin biayanya ga terlalu gede. Ayah punya duit segitu ga ya Bu?". Duh, pertanyaannya betul-betul membuat hati Ibunya nelangsa. Saya memahami pertanyaannya itu keluar karena di satu sisi itu adalah keinginannya yang telah lama dia pendam tapi di sisi lain dia menyadari bahwa biaya yang segitu besarnya bakalan merepotkan ayahnya.
Kemudian hari-harinya pun selalu di isi dengan harapan, "Mudah-mudahan banyak dapet sponsor ya Bu...jadi biayanya ga gede banget.." Pernah malah saya temukan uang recehan yang berceceran dimeja belajarnya. Waktu saya tanyakan, "Mas..dimeja belajar itu duit siapa..?", dengan semangat dia katakan, "Itu sisa duit jajan Mas Bu...Mau mas celengin buat nambah-nambahin ongkos ke Batam". Hhhaahh.... lumayan terperangah dan batin ini bercampur baur antara haru dan lucu.
Dan sempat menjadi pertanyaan dan pergolakan batin di hati, kenapa sih ya yang mengikuti event-event perlombaan yang membawa nama negara kok tidak di tanggung pemerintah. Kasihan juga kan gurunya berusaha cari sponsor sana sini untuk meminimalkan biaya yang ditanggung murid-murid. Ya kalo yang orang tuanya banyak duit mungkin ga masalah. Lha ketemunya dengan yang seperti kami, orang tua yang masih banyak kebutuhannya dan masih kerapkali berupaya mendahulukan mana kebutuhan yang penting.
Maka untuk mewujudkan keinginan si Mas itu adalah hal yang teramat berat. Terus terang, maklum namanya juga ibu-ibu, jelas ada rasa tidak tega jika anaknya harus kecewa, apalagi keinginannya itu sangat-sangat positifnya. Tapi di belahan yang lainnya saya harus bisa semampunya untuk memberikan pengertian pada si Mas untuk berbesar jiwa dan berlapang dada jika keinginannya itu adalah sesuatu yang berat untuk dipenuhi.
Maka ketika Ba'da maghrib disaat kami biasanya berkumpul, sering saya juga ayahnya menyelipkan kata-kata yang dengan harapan "Semoga dia mengerti". Pernah saya katakan, "Mas kirain kegiatan Pramukanya tuh enggak segitu gede biayanya, dan Ibu kira juga yang ikut itu yang emang anak-anak yang terpilih dan nantinya dibiayai sekolah terus orang tua paling-paling kasih bekal ke anaknya secukupnya. Kalau ikut lomba harus nyediain biaya segitu gedenya berarti yang bisa berangkat ya anak-anak yang bisa ngandalin duit orang tuanya, bukan karena kepinteran atau keterampilannya. Nanti cerita-cerita yang mereka bawa dari kegiatan tersebut juga hanya akan lewat begitu saja, enggak akan semanis jika kita keluar negeri itu karena usaha kita sendiri. Contohnya, karena pinter nih sekolahnya, eh dapet beasiswa sekolah keluar negeri, gitu lo.. Nah, itu baru hebat. Mas juga besok-besok bisa cerita keteman-teman saudara atau bahkan Mas besok cerita ke anak-anaknya Mas dengan rasa bangga dan bahagia yang beda, karena pake perjuangan dan usaha Mas sendiri".
Terakhir saya mengikuti rapat Wali murid tentang hal itu. Rupanya di akhir tahun tidak banyak perusahaan yang mau memberikan sponsor dengan alasan mau tutup buku atau alasan lainnya, sehingga diputuskan bahwa biaya murni di tanggung wali murid masing-masing anak. Rata-rata dari ibu-ibu yang saya tanya anaknya mau ikut kegiatan tersebut semua jawabannya sama, "Iya, ga tega lihat anak yang ribut aja mau ikut. Masalah biaya demi anak mah diusahain lah".
Sempat salah seorang gurunya berkata kepada saya, "Aufa teh aktif banget di Pramuka mudah-mudahan dia bisa ikut jambore tingkat dunia ya. Besok ke Batam ini Aufa ikut kan Bu...?". Sambil menghela nafas dalam-dalam saya jawab, " Hhhhh.... saya mau tarik nafas dulu Bu... Kalo melihat rincian biayanya, punteun, saya belum bisa mastiin Bu...". Bu guru pembina Pramuka sekaligus guru agama itu tersenyum dengan jawaban saya.
Pulang dari rapat wali murid itu saya sudah dihadang Mas dengan pertanyaannya, "Gimana Bu, ada sponsor enggak? Biayanya berkurang enggak..?". "Enggak tuh Mas, kayaknya sih tetep bayar penuh seperti yang tertera di selebaran rincian biaya itu lho...". "Oh, ya udah.. Mas enggak usah ikut ajalah Bu..", dengan enteng dan santainya dia menjawab seolah langsung bisa terhapus semua angan-angan dari memorinya, atau apakah dia telah sedemikian pandai menyimpan kekecewaan dihadapan ibunya?
Entahlah, saya hanya bisa bernafas lega dan bersyukur tak hentinya kehadirat Ilahi Robbi. Saya katakan padanya, "Alhamdulillaah... rasanya ga usah nunggu Mas Aufa jadi sarjana deh untuk buat ibu bangga. Mas bisa ngerti dan nerima seperti ini sudah membuat ibu banggaa.. banget sama Mas..."
Itu adalah kata yang terucap, sementara dilubuk yang terdalam dengan berusaha menata hati yang bergolak ada terselip doa penghibur, "Tenang Nak, keinginannmu yang belum tercapai kali ini bukanlah suatu kegagalan bagimu, bukan pula karena Allah tidak mengabulkan permohonanmu. Tapi anggap itu sebagai kesuksesanmu yang tertunda untuk selanjutnya akan Allah berikan pada waktu yang tepat. Cerita cita yang tak sampai, bahkan mungkin sempat menimbulkan kekecewaanmu, adalah puzzle kehidupanmu untuk besok kau sempurnakan dengan menemukan potongan-potongan puzzle lainnya yang masih terserak di sepanjang perjalanan kehidupanmu berikutnya. Disertai doa ibu dan ayah selalu, juga semoga tak luput sedikitpun jua dari ridhaNya, Amin..."
24 Februari 2010
Pernahkah Rasulullah hidup miskin ?

Hidup miskin justru merupakan pilihan Rasulullah SAW. Doa beliau yang terkenal: "Allahumma ahyini miskiinan wa amitnii miskiinan wakhsyurnii fii zumratil masaakiin." (Ya Allah ya Tuhanku, berilah aku kehidupan miskin dan mati dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku dengan golongan orang-orang miskin."
Beliau bisa memilih miskin karena beliau memang dalam posisi bisa memilih: beliau pernah dan kuat kaya; juga pernah dan kuat miskin.
Bayangkan, beliau wafat tidak meninggalkan apa-apa, bahkan masih punya barang yang digadaikan dan belum tertebus di orang Yahudi.
Karena hidup miskin merupakan 'pilihan', jadi beliau tidak pernah menganggap kemiskinan merupakan kesulitan. Tidak makan sehari-dua hari sudah merupakan hal biasa bagi beliau.
Wallahuy a'lam.
sumber: GusMus.net
23 Februari 2010
Ketika Roda (rumah) Sakit...

Alhamdulillah, pagi Senin mendung tapi tak berhujan menggelayut di atas kota Bandung setelah kemarin seharian diguyur hujan dan cuaca yang ekstrim. Berita-berita yang ditayangkan di berbagai media tentang hujan es plus banjir membuat para sanak saudara menelepon menanyakan bagaimana kondisi kami.
Semua memang sudah mempunyai jatah cerita dan rizki masing-masing. Di saat tetangga kampung sebelah perumahan kami kebanjiran karena tanggul sungai yang jebol sampai membuat akses jalan menuju kantor suami ditutup, tidak banyak yang bisa kami bantu atau lakukan untuk mereka. Hanya Alhamdulillah, DKM masjid di perumahan telah sigap menyalurkan bantuan ala kadarnya.
Jika membayangkan tetangga yang kebanjiran bahkan ada sebagian yang mengungsi dan semua itu terjadi tak jauh dari lingkungan perumahan yang kami huni, maka di keadaan yang berbeda rasanya sudah sepantasnya kalau dalam kondisi badan saya yang belum seratus persen fit ini, saya tetap harus bersyukur. Ya bersyukur, karena kami tidak kebanjiran dan yang paling utama untuk lebih menghargai betapa mahalnya dan luar biasa nikmat rizkiNya yang tidak bisa dibeli adalah yaitu kesehatan.
Mulai pagi tadi, setelah pada berakhir mingguan, teman dan tetangga mulai menelepon menengok menanyakan bagaimana kesehatan saya. Perhatian dan doa dari mereka adalah penyemangat saya untuk cepat pulih dan sehat walau dimulai dengan hanya sarapan mie instan panas, yang dalam bayangan sebelum makan, hhhmmm nikmatnyaaa... eh, tapi taunya di lidah ini masih terasa hambar.
Kalaulah boleh mengingat, Kamis pagi lalu saat makan bareng tetangga yang masak sayur genjer plus oncom dengan cabe gendotnya (ini cabe cuma ada di Bandung kayaknya) yang gede dan pedesnyaa.. minta ampun, cumi asin goreng, tambah tahu goreng, trus saya yang kebagian nyambel terasi, Subhaanallaah... betul-betul nikmat. Ya, itu nikmatnya makan yang saya rasakan sementara waktu itu, untuk selanjutnya mulai siang sampai sorenya saya tak ada selera makan. Hingga keterusanlah sampai hari jumat saya harus menyerah dan dibawa suami periksa ke dokter ( Ssssttt...kalau urusan ke dokter saya paling malas orangnya. Biasanya begitu ada rasa tidak enak badan sebisa mungkin saya ikhtiar sendiri. O ya, saya tidak bisa minum sembarang obat karena ada alergi terhadap obat-obatan analgetik tertentu. Maka paling saya cuma bisa minum vitamin C dosis tinggi, minum madu atau makan bakso yang puanass.. dan puedess.. ditambah irisan bawang merah mentah yang banyak, resep manjur almarhumah ibu mertua. Dan dari pengalaman yang sudah-sudah, plus doa tentunya serta semangat sembuh yang kuat, Alhamdulillah tanpa perlu ke dokter saya akan pulih kembali).
Tapi untuk Jumat kemarin cerita menjadi lain. Karena jangankan untuk makan bakso yang panas dan pedes dengan tambahan irisan bawang merahnya itu, untuk bangun dari tempat tidur aja saya sudah tidak kuat, pusing berat dan saya memang merasa saatnya saya butuh bantuan dokter. Ada juga sih teman yang berpendapat kita jangan mendewakan dokter. Karena tanpa terasa itu sudah bisa menjadi syirik, ketika mengannggap kesembuhan datangnya dari si dokter A atau B dan bukan dari Allah. Saya memaklumi dan paham akan pendapatnya, karena saya juga bukan tipe yang panikan kalau sakit dan gampang untuk berobat ke dokter, termasuk jika anak-anak yang sakit. Selama tiga hari biasanya saya akan ikhtiar memberi obat sendiri tapi kalau tidak ada perubahan saya sih harus segera mengajak mereka periksa. Intinya setelah tiga hari sakit masih berlanjut kita akan menghubungi dokter terdekat (sesuai anjuran iklanlaaahh, hehe...). Doa tetap jalan berharap kesembuhan dariNya tapi ikhtiar juga harus tetap jalan. Dokter adalah salah satu sebagai wasilah perantara menuju kesembuhan sementara kesembuhan itu sendiri adalah tetap hakNya Allah semata.
Entahlah karena cuaca sekarang yang memang tidak begitu bersahabat sebentar panas tapi bisa jadi tiba-tiba langsung hujan yang deras, atau memang daya tahan tubuh betul-betul menurun membuat virus mudah menyerang, Wallaahu a'lam, memang sudah jatahnya saya untuk sakit infeksi saluran pernapasan atas. Semua harus tetap dinikmati.
Si genduk Wawa dengan penuh perhatiannya sambil memijiti kepala saya kemarin bertanya " Bu..katanya kalo kita sakit nanti dosanya kita dihapuskan ya..? Itu katanya siapa siih..?". Sambil menahan sedikit geli saya jelaskan bahwa itu adalah perkataan Rosulullah SAW sebagaimana didalam hadistnya, "Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa" (HR. Bukhari).
Dengan sakit ini, saya tahu kasih sayangnya Allah yang tak terlampaui untuk saya puji dan syukuri, dan semoga kesembuhan ia hadiahkan pada saya. Karena menurut teman dekat yang ketika ngerti saya sakit langsung berkomentar," Aduh, kalo rodanya (rumah) yang sakit gitu gimana mau jalan tuuh ..". Teganya dia nyamain saya sama roda tapi mungkin betul juga istilahnya ya, roda harus segera diperbaiki, tapi yang pasti bukan diganti tooh..? Gawat dong kalau diganti !! Piss, canda dikit hehe...
Ya, perputaran kegiatan rumah tangga harus segera berjalan normal. Kasihan anak-anak, kasihan ayahnya anak-anak...
"Allaahummasyfii anta syaafin laa syifaa-a illa syifaa-uka syifaa-an laa yughodiru saqoman"
Bandung, Pebruari 22 2010
Langganan:
Postingan (Atom)