16 Oktober 2009

Biarlah dianggap kuper dan tak tahu gosip terkini...


Ahhh..., rasanya lama sudah tidak berbagi cerita, padahal begitu banyak dikepala ini yang ingin saya pindahkan dalam tulisan.
Alhamdulillaah dan saya senantiasa berlindung pada Allah, semoga apa yang pernah saya tulis atau sekarang cerita yang akan saya tulis tidak di barengi dengan rasa kesombongan diri. Semua semata hanyalah berharap ridho Allah SWT.

Karena, terus terang, untuk kembali memulai menulis sekedar berbagi cerita, kadang muncul di dalam pikiran terngiang-ngiang ucapan ustazdah saya manakala saya sampaikan kepadanya bahwa saya di Facebook atau di blog suka menulis cerita untuk sekedar berbagi pengalaman. Ustadzah itu menanggapi dengan mengatakan bahwa dakwah yang baik itu memang ada yang melalui kisah yang penuh hikmah. Tapi lebih bagus jika ceritanya tidak menyangkut tentang diri sendiri, tapi cerita-cerita dari para orang-orang yang sholeh terdahulu, karena dikhawatirkan jika cerita yang di sampaikan itu tentang diri sendiri mungkin ada yang bisa menangkap hikmah dibaliknya, tapi bisa jadi ada sebagian yang menganggap itu sebagai suatu kesombongan saja.

Pernah hal yang mengganjal ini saya utarakan kepada salah satu teman saya, dan dia tetap memberi semangat pada saya untuk tetap menulis,
karena menurutnya justru sebenarnya ada hal-hal di sekitar kita sekarang yang justru bisa kita ambil hikmahnya, dan dia menyampaikan jika ada yang saya tulis nantinya berbau kesombongan maka teman-teman yang lain yang membaca bisa mengkritik atau menegur saya.
Dan memang itulah yang saya harapkan, kepada teman-teman untuk bersedia menegur jika di dalam tulisan-tulisan saya nantinya ada yang tidak berkenan di hati. Jauh di lubuk hati saya merasa sangat dhoiif, merasa lemah, untuk bisa dikategorikan atau layak untuk disebut apa yang saya tulis sebagai dakwah karena sayapun masih banyak kekurangan. Saya hanya ingin kita bisa sharing, saling berbagi dan saling mengingatkan agar bisa kita terus menerus berusaha memperbaiki kualitas diri.

Alhamdulillaah dan rasa terima kasih saya yang tak terkira atas support sebagian dari teman-teman khususnya bulik-bulik tersayang, yang ketika bertemu di liburan lebaran kemarin baru saya ketahui bahwa diantara berbagai kesibukan beliau-beliau telah berkenan menyempatkan membaca note-note yang saya tulis. Itu membuat saya merasa seakan-akan beliau-beliau menantikan tulisan-tulisan saya ( hehehe...ge-er juga nih akhirnya...tapi dikit kok...)

Mungkin cerita saya untuk kali ini juga bisa berkenan, walau agak tidak fresh tapi mungkin ada baiknya jika cerita ini saya tulis. Karena bisa dikatakan ini adalah rasa trauma saya yang merasakan guncangan gempa Tasikmalaya beberapa waktu lalu. Tapi trauma saya mungkin agak berbeda dari yang lainnya, sebelum terjadi gempa sore hari di bulan Ramadhan lalu, sekitar beberapa menit sebelum kejadian saya yang belum memulai aktivitas memasak untuk berbuka karena bisanya setelah sholat ashar baru saya akan ke dapur. Dan dikarenakan waktu yang agak luang menunggu ashar itu muncullah yang namanya hawa nafsu. Saya ingin sekali menonton TV dengan disertai kata hati, "Wah, sudah lamaaaa banget tidak lihat acara infotaiment di TV, kira kira berita gosipnya apa ya sekarang ini biar ga kuper-kuper amat".

Lalu tangan inipun langsung tanpa basa basi memencet tombol televisi dan mencari channel yang menayangkan acara infotaiment, tapi belum beberapa menit saya mengikuti acara tersebut saya gelisah dan berkatalah kata hati ini kembali (mungkin jika di imajinasi atau film anak-anak selalu digambarkan kata hati saya yang pertama mungkin bisa berbentuk setan yang berbaju hitam dan bertampang seram atau peri jahat yang bergaun hitam sebagai perlambang kata hati yang membisikkan untuk berbuat jahat, dan untuk kata hati satu lagi yang muncul adalah berbentuk malaikat yang berbaju putih dan tampan atau ibu peri cantik bergaun putih bersayap kupu-kupu yang suka membisikkan untuk berbuat baik, hehe.. ). Kata hati yang baik itu adalah, "Halah... kok puasa-puasa gini, bulan Ramadhan yang penuh berkah malah nonton acara gosip yang ga ada manfaatnya, kenapa ngisi waktu dengan hal yang sia-sia? Mending ngaji aja menunggu sampai waktu ashar tiba".

Dan Alhamdulillaah dengan membenarkan kata hati yang muncul belakangan ini saya spontan mematikan televisi dan langsung berwudlu, memakai kerudung, mengambil kitab suci Al-Quran dan mulailah saya membaca dengan perlahan, tapi baru dua ayat yang saya baca, tiba-tiba...drrrr.....!!! Plafon rumah bergemuruh seakan mau roboh . Sesaat saya hanya bisa menengadah dan mengira-ngira, "Ga biasanya ada kucing diatas plafon ya..." Tapi begitu pandangan saya alihkan ke lantai, Masyaa Allaah...lantai itu seperti bergelombang dan seketika sadarlah saya bahwa gempa, dengan sigap saya menggendong si kecil Adek yang sedang main di lantai dan berlari keluar..!!

Di jalan depan rumah semua tetangga telah keluar berkumpul sambil mengucap asma Allah. Setelah guncangan itu berlalu kami baru menyadari bahwa masing-masing dari kami mempunyai cerita sendiri-sendiri. Ada tetangga saya yang sedang masak lupa mematikan kompornya sehingga dengan penuh ketakutan harus masuk rumah lagi untuk mematikan kompor. Dan rata-rata dari mereka dikarenakan panik yang amat sangat sampai-sampai untuk membuka kunci pintupun menjadi suatu hal yang sulit (dan dalam hal ini sayapun termasuk beruntung juga karena pintu rumah saya jarang saya kunci bahkan selalu terbuka karena si Adek yang suka keluar masuk bermain). Ada juga yang lupa berkerudung bahkan hanya memakai celana pendek dan kaos seadanya karena tak terpikir apa-apa lagi yang penting lari keluar rumah. Ada yang malah sedang berhias memakai bedak karena mau pergi.

Ketika saya menyadari diri saya sendiri, hanya kata Alhamdulillaah dan syukur yang tak terhingga karena rupanya saya tidak hanya mendekap erat Adek dalam gendongan tapi Al-Quran yang sedang saya baca juga masih berada dalam dekapan erat di dada ini, Subhaanallaah. Saya hanya berandai-andai, misalkan gempa itu membuat bangunan rumah roboh lalu saya tertimpa dan meninggal mungkin secara kasat mata alangkah indahnya akhir hidup saya, walau pada hakikat sebenarnya bagaimanapun posisi akhir hidup kita semua Wallaahu a'lam bissawaab...

Sedikit guncangan akibat gempa yang dirasakan, tapi mampu mengguncang dahsyat rasa ketakutan dan meninggalkan rasa trauma jika hal itu nanti terulang. Sedangkan trauma diri saya sendiri bukan rasa takut jika gempa itu terjadi lagi dan membayangkan bisa jadi saya akan menjadi salah satu korbannya. Tapi yang membuat trauma justru sekarang saya seperti selalu diingatkan melalui apa yang terjadi sebelum kejadian gempa itu untuk selalu mengisi waktu dengan penuh kebaikan dan bukan hal yang sia-sia karena bencana ataupun maut bisa terjadi kapan saja, dimana saja, tanpa di duga sesuai kehendak dan aturanNya.

Menonton infotaiment lagi ??? Aduuhhh.. terus terang takuuuuttttt..... Biarlah dianggap kuper dan tak tahu gosip terkini...

Semoga saya bisa istiqomah dan tidak mudah terbujuk bisikan kata hati yang jelek lagi........


Bandung, 15102009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar